PANGESTU

Paguyuban Ngesti Tunggal Solo

January 14, 2015
pit.master
0 comments

Selamat Ber-OLAHRASA

Pada intinya ajaran Sang Guru Sejati memberikan pelajaran dan petunjuk untuk : 1. Mengingatkan semua umat yang lupa akan kewajiban suci, yaitu mereka yang ingkar (murtad) terhadap perintah Allah.

2. Menunjukkan jalan benar, yaitu jalan utama yang berakhir pada kesejahteraan, ketentraman, dan kemuliaan abadi.

3. Menunjukkan adanya jalan simpangan yang berakhir pada kegelapan, kerusakan, dan kesengsaraan.

4. Menunjukkan larangan Tuhan yang harus dijauhi dan dihindari, jangan sampai dilanggar.

5. Menunjukkan adanya Hukum Abadi yang menguasai Alam Semesta dan kehidupan umat manusia, baik di dunia ini maupun di alam baka nantinya.

6. Menerangkan tentang dunia besar, yaitu alam semesta di luar diri manusia, dan dunia kecil, yaitu badan jasmani dan rohani di dalam diri masing-masing manusia, dalam satu kesatuan alam semesta seisinya.

Bisa anda kunjungi juga situs resmi Pangestu : www.pangestu.or.id

Mohon maaf, untuk postingan yang di protect berasal dari buku-buku wajib bagi anggota Pangestu, anda bisa meminta keterangan langsung kepada anggota Pangestu (para pengurus) yang ada tentang buku-buku tersebut. Silakan menghubungi alamat cabang Pangestu terdekat di tempat Anda.

DASA SILA

PEDOMAN WARGA PANGESTU:

1. Berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2. Berbakti kepada Utusan Tuhan.

3. Setia kepada kalifatullah (pembesar negara dan undang-undangnya).

4. Berbakti kepada tanah air.

5. Berbakti kepada orang tua (ayah-ibu).

6. Berbakti kepada saudara tua.

7. Berbakti kepada guru.

8. Berbakti kepada pelajaran keutamaan.

9. Kasih sayang kepada sesama hidup.

10. Menghormati semua agama.

May 26, 2012
pit.master
0 comments

KEGIATAN PEMUDA

Kegiatan kepemudaan pangestu dalam waktu dekat diantaranya :

1. Olahrasa Pemuda se-Jateng-DIY

Olahrasa Pemuda se-Jateng-DIY rencana akan diadakan di Purbalingga pada bulan September 2012.

2. Renungan Malam Tahun Baru 2013

Pada akhir tahun 2012 menyambut Tahun Baru 2013, akan diselenggarakan kegiatan RMTB 2013 di Rembang, Jawa Tengah. Peserta yang diundang dari pemuda se-Jateng-DIY.

3. PPMB II di Ungaran, Jawa Tengah

Pekan Panca Marga Bakti II tahun 2012 diselenggarakan hari Jumat sampai dengan Minggu dari tanggal 6-8 Juli 2012 bertempat di Gedung Anak, Ungaran, Jawa Tengah.

Kegiatan PPMB II bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan bagi pemuda Pangestu sekaligus menambah kesupeketan antar pemuda Pangestu se Korda Jateng.

Kegiatan ini diikuti oleh +/- 100 peserta dari pemuda di wilayah Korda Pangestu Jateng I-XII.

Dengan mengangkat konsep multi  Wokshop, panitia PPMB II menyediakan 4 kelas yaitu kelas fotografi, kelas blogging, kelas public speaking dan kelas handmade.

4. Perkemnas 2013

Kegiatan Perkemahan Nasional Pemuda Pangestu tahun 2013 akan diselenggarakan tanggal 23-25 Agustus 2013. Rencananya akan di selenggarakan di Pondok Remaja Salib Putih, Salatiga, Jawa Tengah.

Peserta adalah para pemuda Pangestu dari seluruh Indonesia. Dengan jumlah peserta camping +/- 400 pemuda, dan peserta olahrasa +/- 1000 orang.

Kegiatan Perkemnas 2013 ini bertujuan untuk menambah kesupeketan para pemuda Pangestu dari seluruh Indonesia.

May 24, 2012
pit.master
0 comments

KILAS BALIK : Perkembangan Penyebaran Ajaran Sang Guru Sejati

KILAS BALIK

 

Perkembangan Penyebaran Ajaran Sang Guru Sejati

 

Hari lahir Pangestu telah ditetapkan sebagai Hari Pembangunan yang setiap tahun diperingati oleh segenap cabang Pangestu. Yang dibangun oleh Pangestu dengan ajaran Sang Guru Sejati adalah jiwa agar sehat dan sentosa.

Lahirnya Pangestu adalah atas perintah Sang Guru Sejati dengan perantaraan siswa-Nya, Bapak Soenarto Mertowardojo, pada tanggal 20 Mei 1949, jam 4.30 sore di dalam bilik yang kecil, berukuran 3×3 m, rumah behau di Jalan Gondang 7, Solo.

Sabda Sang Guru Sejati itu kini tercatat sebagai Sabda Khusus No. 1. Sang Guru Sejati memerintahkan agar para siswa-Nya dihimpun dalam suatu perkumpulan biasa. Maka, sebagai kelanjutan dari sabda tersebut, para siswa berunding dan terbentuklah pengurus sementara yang menetapkan Pak Goenawan sebagai ketua, siswa lainnya sebagai anggota, sedangkan Pakde Narto sendiri, sesuai dengan sabda Sang Guru Sejati, menjadi paranpara atau penasihat.

Setelah Pengurus sementara dibentuk, para siswa merundingkan tentang nama yang akan diberikan kepada perkumpulan mereka itu. Oleh karena para siswa tidak berhasil menciptakan nama untuk perkumpulan mereka, Sang Guru Sejati berkenan memberi nama Paguyuban Ngesti Tunggal. Suatu nama yang sangat tepat karena dengan jelas menunjukkan tujuan yang hendak dicapai, yaitu: bertunggal. Bertunggal dengan Tuhan dan bertunggal dengan masyarakat. Betapa gembiranya para siswa setelah nama panjang itu dapat disingkat Pangestu.

Beberapa hari kemudian barulah dibentuk pengurus tetap dengan Pak Goenawan masih sebagai ketua. Namun, sebenarnya sebelum pengurus tetap terbentuk, Bapak Soetrasman pernah juga ditunjuk menjadi ketua meskipun untuk waktu yang sangat singkat karena beliau dipindahkan ke Surabaya.

Hal itu diketahui dengan adanya kartu tanda anggota Pangestu berbahasa Jawa yang ditandatangani oleh Bapak Soetrasman sebagai sesepuhing Pangestu (ketua) dan Pak Goenawan sebagai panitera (sekretaris). Kartu tanda anggota tersebut tertanggal 1 Oktober 1949 dan 22 Oktober 1949.

Kejadian pada 20 Mei 1949 itu tidak bisa dilepaskan dari peristiwa yang terjadi 17 tahun sebelumnya, tepatnya tanggal 14 Februari 1932. Peristiwa tersebut setiap tahun juga diperingati oleh segenap warga Pangestu dalam upacara Hari Pepadang.

Pada hari itu Sang Guru Sejati berkenan menurunkan pe-padang-Nya dengan perantaraan siswa-Nya bernama Soenarto Mertowardojo melalui tiga sabda yang terdengar jelas dalam hati sanubari yang suci (rahsa jati) siswa Soenarto.

- Sabda pertama menjelaskan apa arti Ilmu Sejati,

- Sabda kedua menerangkan siapa Sang Guru Sejati,

- Sabda ketiga berisi janji bahwa siswa Soenarto akan diberi pembantu dua orang, yaitu Hardjoprakoso dan Soemodihardjo. Bertiga mereka diperintahkan untuk menyebarluaskan ajaran-Nya.

Sang Guru Sejati juga bersabda bahwa akan ada orang-orang yang tidak percaya kepada mereka, tetapi mereka tidak boleh berkecil hati, akan ada orang yang menertawakan dan meremeh-kan mereka, tetapi mereka tidak boleh sakit hati, dan mereka tidak boleh waswas dan cemas apabila ada yang memfitnah me-reka, sebab yang memegang ukuran dan timbangan adalah Sang Guru Sejati sendiri.

Tiga bulan kemudian (bulan Mei) datanglah dua orang yang disebutkan dalam sabda Sang Guru Sejati ke rumah Pakde Narto di Widuran, yang belum beliau kenal secara pribadi.

Hardjoprakoso yang disebut dalam sabda itu adalah Raden Tumenggung Hardjoprakoso, Bupati Anom pada Swapraja Mangkunegaran, seorang ahli filosofi, sedangkan Soemodihardjo yang disebut oleh Sang Guru Sejati dalam sabda-Nya itu adalah Raden Trihardono Soemodihardjo, seorang muslim yang saleh dan ahli dalam agama Hindu, Buddha, dan Konghuchu.

Pada pertemuan mereka bertiga itu, yakni tanggal 27 malam 28 Mei 1932, atau malam Sabtu Pahing tanggal 21 Sura 1863, Sang Guru Sejati menurunkan sabda-Nya dengan perantaraan Pakde Narto yang dicatat oleh Pak Menggung Hadjoprakoso dan Pak Soemodihardjo.

Ajaran Sang Guru Sejati yang diturunkan sampai bulan Januari 1933 itu dihimpun dalam tujuh buku tuntunan: Hasta Sila, Paliwara, Gumelaring Dumadi, Tunggal Sabda, Jalan Rahayu, Sangkan Paran, dan Panembah.

Kecuali Tunggal Sabda, semuanya segera diserahkan kepada sebuah percetakan swasta “Swastika” dan “De Bliksem” di Sura-karta untuk diterbitkan. Keenam buku tuntunan tersebut ditulis dalam bahasa Jawa dan dicetak dengan huruf Jawa.

Atas saran dan nasihat Bapak Paranpara, Pakde Narto, buku-buku berhuruf Jawa itu ditulis kembali dengan huruf Latin untuk memudahkan mereka yang tidak mengerti aksara Jawa. Pada tahun 1954, atas usaha Kolonel Moersito, Ketua cabang Pangestu Jakarta yang pertama, semua buku tuntunan ajaran Sang Guru Sejati tersebut, termasuk Tunggal Sabda, dapat diterbitkan dalam satu jilid dengan nama Sasangka Jati yang berarti Pepadang Sejati.

Nama Sasangka Jati adalah pemberian Pakde Narto dan untuk pertama kali dipakai pada tahun 1950 di Jalan Nias 4, Bandung, dalam suatu cerita tentang pertemuan Pakde Narto dengan kakaknya, Kapten Sasangka Jati yang sebenarnya adalah lukisan tentang panembah. Pertemuan tersebut adalah bertunggainya Roh Suci (dari Pakde Narto) dengan Sasangka Jati.

Ketika pustaka Sasangka Jati dicetak kembali pada tahun 1960, “Ular-ular” dari para pencatat, atas perkenan Pakde Narto, tidak disertakan lagi, tetapi diterbitkan terpisah.

Penerjemahan buku-buku tuntunan ke dalam bahasa Indonesia telah dimulai pada tahun 50-an, yang selesai baru Hasta Sila, Paliwara, dan Gumelaring Dumadi. Pada tahun 1960 semua buku tuntunan selesai diterjemahkan dan kemudian dicetak. Hasil cetakan itu dipersembahkan kepada Pakde Narto pada Kongres III tahun 1961. Meskipun pada sampulnya tertera Sasangka Jati, sebenarnya masih merupakan buku-buku terpisah yang hanya dijilid menjadi satu. Pada waktu itu Pakde menyatakan kekecewaan beliau. Pada cetakan berikutnya, kesalahan telah diperbaiki, ketujuh buku tuntunan tersebut sudah merupakan suatu kesatuan sebagai pustaka Sasangka Jati dalam bahasa Indonesia.

Penedemahan Sasangka Jati ke dalam bahasa Sunda selesai dikerjakan pada tahun 1964. Pustaka Sasangka Jati telah juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Bapak dr. Marsaid Soesilo dengan judul True Light dan terbit tahun 1965.

Kalau Sasangka Jati diibaratkan sumur, maka Pakde Nartolah yang dengan susah payah telah menggali sumur tersebut, sedangkan Bapak Hardjoprakoso yang menemboki sumur itu hingga sentosa dan Bapak Trihardono Soemodihardjo yang melengkapi sumur yang telah ditembok itu dengan perkakasnya, yakni ember dan talinya.

Sabda-sabda yang diterima Bapak Soenarto pertama kali Dada 14 Februari 1932 juga telah terhimpun dalam buku Sabda Pretama dan dicetak pada tahun 1967.

Sejak Bapak Soenarto menerima Wahyu Sasangka Jati pada tahun 1932 itu, rumah beliau di Widuran hampir setiap malam didatangi tamu yang ingin menyiswa untuk mendengar pepadang ajaran Sang Guru Sejati. Namun, jumlahnya masih terbatas dan umumnya berusia di atas 40 tahun, yang termuda adalah Pakde Narto dengan usia 33 tahun.

Pada setiap bulan purnama, pertemuan olahrasa, disebut purnamasiden, diadakan di rumah kediaman Bapak Hardjoprakoso.

Hingga tahun 1942 belum banyak orang yang menyiswa meskipun buku-buku pepadang ajaran Sang Guru Sejati telah dikirim ke instansi-instansi terkait dalam pemerintahan dan juga kepada para bupati di luar daerah Surakarta. Tidak ada respons yang berarti, hanya satu dua membalas pengiriman buku-buku tersebut dengan memberikan tanda penghargaan.

Ketika pemerintah Belanda pada tahun 1942 digantikan oleh Jepang, selama masa tiga tahun Jepang berkuasa, pertemuanpertemuan olahrasa terhenti, semua orang sibuk dengan pekerjaan dan urusan masing-masing. Ikatan penyiswaan belum ada. Pada masa itu, Bapak Hardjoprakoso, salah seorang siswa pelopor Sang Guru Sejati, wafat pada 22 Agustus 1942.

Oleh karena keadaan, Bapak Soenarto jarang bertemu dengan Bapak Soemodihardjo. Namun, walaupun tidak ada pertemuan olahrasa dengan Pakde Narto, mereka yang telah mengenal pepadang ajaran Sang Guru Sejati, melanjutkan penyiswaannya dalam heti sanubari masing-masing.

Ketika Indonesia telah berdiri sebagai negara yang merdeka, para Siswa di Solo pada tahun 1946, dalam jumlah yang masih terbatas mulai menyelenggarakan pertemuan olahrasa lagi di kediaman Bapak Soenarto di Jalan Gondang 7.

Sementara itu, Belanda ingin menguasai kembali bekas jajahannya dan terjadilah spa yang disebut dengan          Clash I dan Clash II. Belanda berhasil menduduki kota Solo pada 21 Desember 1948. Para pemuda kita tidak tinggal diam, mereka mengangkat senjata dan melancarkan perang gerilya terhadap Belanda. Pada waktu itu keadaan kota Solo sangat menyedihkan, rakyat menderita dan korban banyak yang jatuh.

Pakde sangat prihatin, beliau berniat untuk bertapa brata motion sih dan perlindungan Tuhan Yang Mahakuasa bagi bangsa Indonesia yang sangat menderita. Demikianlah, pada 13 April 1945 Pakde bertapa brata dengan jalan ngamar dan barn keluar pada 21 April bertepatan dengan hari ulang tahun beliau yang ke-50.

Selama ngamar itu Pakde Narto telah menerima sabda dari Sang Guru Sejati bahwa perjuangan bangsa Indonesia akan lekas selesai dan Indonesia akan jays. Hal itu oleh Pakde Narto kemudian diwujudkan dengan selamatan nasi merah putih yang di dalamnya terpendam lank pauknya. Setelah hajat selamatan ulang tahun itu, Pakde melanjutkan niat suci beliau dengan ngamar.

Pada permulaan tahun 1949, kota Solo masih dalam pendudukan Belanda, tetapi Pakde Narto tetap menyebarluaskan pepadang ajaran Sang Guru Sejati kepada para siswa, yang secara teratur hadir pada pertemuan olahrasa di rumah kediaman beliau meskipun jumlah mereka belum banyak.

Oleh karena ada larangan bekumpul lebih dari 5 orang dan pemberlakuan jam malam dari jam 6 sore hingga jam 6 pagi, mereka datang secara sendiri-sendiri sebelum berlakunya jam malam dan pulang setelah jam malam berakhir.

Pada waktu itu, Pakde juga mulai memberikan semacam ceramah penerangan khusus untuk wanita.

Pada tanggal 20 Mei 1949, jam 11.00 pagi, tujuh orang ibu hadir di Jalan Gondang 7 untuk mendengarkan ceramah Pakde yang diberikan beliau dalam bahasa Jawa. Ketika itu Pakde memberikan Pangesti I dan II Berta menerangkan kegunaannya dan memberi wejangan tentang pepadang ajaran Sang Guru Sejati. Kira-kira pukul 12.00 Pakde berdiam diri mengheningkan cipta dan tidak lama kemudian beliau menyatakan bahwa Sang Guru Sejati berkenan memberi sabda.

Itulah sabda Sang Guru Sejati yang pertama kepada para siswa sebelum kelahiran organisasi Pangestu pada sore harinya seperti yang disebutkan di atas.

Dengan sabda tanggal 20 Mei itu, Sang Suksma Sejati menunjukkan bahwa suatu organisasi sangat diperlukan untuk menyebarluaskan pepadang ajaran-Nya.

Setelah Pangestu berdiri, jumlah anggota semakin meningkat sehingga rumah Pakde Narto di Jalan Gondang 7 tidak lagi mencukupi untuk berolahrasa. Make sejak 1 November 1949, pertemuan olahrasa diadakan di pendopo rumah Bapak Soeratman di Jalan Ngentak 111/3, Manahan (kini Jalan Rajawali 111/3). Jadwal pertemuan diatur menjadi setiap Minggu sore untuk golongan prig dan setiap Jumat pagi untuk wanita.

Selain olahrasa wanita, tidak lama atau 18 hari kemudian setelah kelahiran Pangestu, Pakde Narto membentuk pamiwahan putra. Ketika itu Pakde merasakan keprihatinan yang mendalam atas keadaan masyarakat yang sedang diliputi kegelapan dan adanya kerusakan budi pekerti bangsa yang berada di wilayah pendudukan Belanda. Banyak di antara anak-anak kurang mendapat bimbingan tentang kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal itu menggerakkan hati Pakde untuk mendekat kepada Sang Guru Sejati dengan jalan tapa brata. Maka, pada waktu itu Pakde menerima pepadang Sang Guru Sejati agar anak-anak dihimpun dan di wiwaha (dimuliakan) untuk diperbaiki budi pekertinya supaya jiwanya tidak rusak. Pamiwahan diadakan untuk putra-putri di bawah umur 12 tahun dan untuk pertama kali dilangsungkan pada tanggal 8 Juni 1949, dipimpin sendiri oleh Pakde Narto.

Pertemuan-pertemuan olahrasa pada era tahun 50-an sangat berbeda dengan olahrasa yang diadakan sekarang. Pada awal berdirinya Pangestu, Pakde Narto adalah pengisi tunggal olah-rasa, kemudian bersama dengan Pakde Soemo.

Pada olahrasa itu Pakde Narto tidak selalu terus-menerus memberikan wejangan tentang ajaran Sang Suksma Sejati dan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Kadang-kadang dengan ti-dak terduga, beliau memberi ujian atau testing mengenai hal-hal yang telah beliau utarakan. Pada waktu olahrasa, Pakde ada kalanya juga melagukan tembang atau membacakan syair yang telah beliau gubah. Tembang-tembang tersebut telah dibukukan dalam Warisan Langgeng dan Sesotya Rinonce.

Pada masa itu Pangestu berkembang pesat. Pada tahun 1949 itu Sang Guru Sejati berulang kali menurunkan sabda. Meminjam kata-kata Bapak Dr. Soemantri, seakan-akan Sang Suksma Sejati memanjakan para siswa-Nya.

Rangkaian sabda yang turun dalam periode 1949 hingga 1961 telah terhimpun dalam buku Sabda Khusus, dicetak pertama kali pada tahun 1967. Terjemahannya dalam bahasa Indonesia terbit pertama kali pada tahun 1967.

Pada bulan Januari 1950, Pakde Narto dipindahkan ke Jakarta kemudian ke Bandung. Kepindahan beliau ke Jawa Barat itu membawa hikmah, sebab di tempat yang baru itu Pakde menyebarluaskan pepadang ajaran Sang Guru Sejati sehingga pada 8 Agustus 1950 dapat didirikan Pangestu Cabang Bandung yang merupakan cabang pertama di luar Solo.

Apabila kepindahan Pakde Narto dari Solo itu memungkinkan penyebarluasan ajaran Sang Guru Sejati dengan berdirinya cabang-cabang baru, maka Pangestu Cabang Solo mengalami masa surut yang cukup berarti, lebih-lebih ketika Pakde Soemo juga pindah ke Bandung pada bulan Agustus 1952.

Hal tersebut menjadi keprihatinan Pakde Narto yang beliau utarakan dalam wejangan beliau pada Kongres I tahun 1954 di Solo. Kalau sebelumnya yang datang pada olahrasa 50 atau 60-an, kemudian menjadi 10,5,3, hingga 2 orang saja. Itu barangkali karena hanya melihat Pakde Narto atau Pakde Soemo. Janganlah hal itu terjadi lagi. Meskipun Pakde Narto, Pakde Soemo, dan pamong lain tidak ada, penyiswaan kepada Sang Guru Sejati ja-ngan sampai surut dan tetaplah menghadiri olahrasa.

Kini penyelenggaraan olahrasa sudah jauh berbeda, tidak lagi sepanjang malam (ketika ada peraturan jam malam), tetapi dibatasi hingga dua jam.

Berpuluh-puluh siswa sudah bertindak sebagai juru penabur dan pengisi olahrasa. Hal itu membuktikan bahwa sudah banyak siswa yang mendalami pepadang ajaran Sang Suksma Sejati sehingga mampu menyebarluaskan pepadang ajaran-Nya berkat pendidikan penataran (Calon Juru Penabur).

Dengan adanya Pangestu, pepadang ajaran Sang Suksma Sejati makin tersebar luas. Cabang-cabang Pangestu di luar kota Solo mulai berdiri. Untuk menyebutkan beberapa cabang saja yang lahir pada waktu Pakde masih sugeng, yaitu Bandung, Jakarta, Cirebon, dan Bogor di Jawa Barat; Semarang, Yogyakarta, Solo, dan Magelang di Jawa Tengah; Surabaya, Malang, Kediri, dan Jember di Jawa Timur. Kemudian di luar Pulau Jawa diresmikan cabang Bali di Denpasar. Solo yang pada awalnya berkedudukan sebagai pengurus pusat kemudian membentuk cabang pada tahun 1954 sedang pengurus pusat mulai tahun 1959 berkedudukan di Bandung dan kemudian menetap di ibu kota Republik Indonesia.

Bapak paranpara Pangestu, Pakde Narto, antara tahun 1962 – 1965 beberapa kali mengadakan kunjungan ke cabang-cabang Pangestu di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Pada waktu itu sebenarnya kesehatan badan jasmani Pakde sudah mulai mundur. Kunjungan beliau terakhir sebelum beliau wafat pada 16 Agustus 1965 adalah ke Cabang Purwokerto dan Magelang pada bulan Juli 1965.

Ulang tahun Pakde Narto tanggal 21 April selalu dihadiri para warga Pangestu untuk meyatakan rasa cinta dan bakti mereka kepada Bapak Paranpara. Apabila semula peringatan ulang tahun Pakde cukup diselenggarakan di Manahan, kemudian harus pindah ke gedung yang lebih besar dan terakhir diadakan di Dalem Kalitan yang mempunyai pelataran yang luas.

Gambaran peningkatan warga Pangestu yang menghadiri peringatan ulang tahun Pakde adalah sebagai berikut. Pada tahun 1961, 150 orang, tahun 1962 menjadi 850 orang, tahun 1963, 1500 orang, tahun 1964, 1800 orang dan pada tahun 1965, ulang tahun Pakde yang ke-66 dan yang terakhir dihadiri oleh 3500 orang.