PANGESTU

Paguyuban Ngesti Tunggal Solo

May 26, 2012
pit.master
0 comments

KEGIATAN PEMUDA

Kegiatan kepemudaan pangestu dalam waktu dekat diantaranya :

1. Olahrasa Pemuda se-Jateng-DIY

Olahrasa Pemuda se-Jateng-DIY rencana akan diadakan di Purbalingga pada bulan September 2012.

2. Renungan Malam Tahun Baru 2013

Pada akhir tahun 2012 menyambut Tahun Baru 2013, akan diselenggarakan kegiatan RMTB 2013 di Rembang, Jawa Tengah. Peserta yang diundang dari pemuda se-Jateng-DIY.

3. PPMB II di Ungaran, Jawa Tengah

Pekan Panca Marga Bakti II tahun 2012 diselenggarakan hari Jumat sampai dengan Minggu dari tanggal 6-8 Juli 2012 bertempat di Gedung Anak, Ungaran, Jawa Tengah.

Kegiatan PPMB II bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan bagi pemuda Pangestu sekaligus menambah kesupeketan antar pemuda Pangestu se Korda Jateng.

Kegiatan ini diikuti oleh +/- 100 peserta dari pemuda di wilayah Korda Pangestu Jateng I-XII.

Dengan mengangkat konsep multi  Wokshop, panitia PPMB II menyediakan 4 kelas yaitu kelas fotografi, kelas blogging, kelas public speaking dan kelas handmade.

4. Perkemnas 2013

Kegiatan Perkemahan Nasional Pemuda Pangestu tahun 2013 akan diselenggarakan tanggal 23-25 Agustus 2013. Rencananya akan di selenggarakan di Pondok Remaja Salib Putih, Salatiga, Jawa Tengah.

Peserta adalah para pemuda Pangestu dari seluruh Indonesia. Dengan jumlah peserta camping +/- 400 pemuda, dan peserta olahrasa +/- 1000 orang.

Kegiatan Perkemnas 2013 ini bertujuan untuk menambah kesupeketan para pemuda Pangestu dari seluruh Indonesia.

May 24, 2012
pit.master
0 comments

KILAS BALIK : Perkembangan Penyebaran Ajaran Sang Guru Sejati

KILAS BALIK

 

Perkembangan Penyebaran Ajaran Sang Guru Sejati

 

Hari lahir Pangestu telah ditetapkan sebagai Hari Pembangunan yang setiap tahun diperingati oleh segenap cabang Pangestu. Yang dibangun oleh Pangestu dengan ajaran Sang Guru Sejati adalah jiwa agar sehat dan sentosa.

Lahirnya Pangestu adalah atas perintah Sang Guru Sejati dengan perantaraan siswa-Nya, Bapak Soenarto Mertowardojo, pada tanggal 20 Mei 1949, jam 4.30 sore di dalam bilik yang kecil, berukuran 3×3 m, rumah behau di Jalan Gondang 7, Solo.

Sabda Sang Guru Sejati itu kini tercatat sebagai Sabda Khusus No. 1. Sang Guru Sejati memerintahkan agar para siswa-Nya dihimpun dalam suatu perkumpulan biasa. Maka, sebagai kelanjutan dari sabda tersebut, para siswa berunding dan terbentuklah pengurus sementara yang menetapkan Pak Goenawan sebagai ketua, siswa lainnya sebagai anggota, sedangkan Pakde Narto sendiri, sesuai dengan sabda Sang Guru Sejati, menjadi paranpara atau penasihat.

Setelah Pengurus sementara dibentuk, para siswa merundingkan tentang nama yang akan diberikan kepada perkumpulan mereka itu. Oleh karena para siswa tidak berhasil menciptakan nama untuk perkumpulan mereka, Sang Guru Sejati berkenan memberi nama Paguyuban Ngesti Tunggal. Suatu nama yang sangat tepat karena dengan jelas menunjukkan tujuan yang hendak dicapai, yaitu: bertunggal. Bertunggal dengan Tuhan dan bertunggal dengan masyarakat. Betapa gembiranya para siswa setelah nama panjang itu dapat disingkat Pangestu.

Beberapa hari kemudian barulah dibentuk pengurus tetap dengan Pak Goenawan masih sebagai ketua. Namun, sebenarnya sebelum pengurus tetap terbentuk, Bapak Soetrasman pernah juga ditunjuk menjadi ketua meskipun untuk waktu yang sangat singkat karena beliau dipindahkan ke Surabaya.

Hal itu diketahui dengan adanya kartu tanda anggota Pangestu berbahasa Jawa yang ditandatangani oleh Bapak Soetrasman sebagai sesepuhing Pangestu (ketua) dan Pak Goenawan sebagai panitera (sekretaris). Kartu tanda anggota tersebut tertanggal 1 Oktober 1949 dan 22 Oktober 1949.

Kejadian pada 20 Mei 1949 itu tidak bisa dilepaskan dari peristiwa yang terjadi 17 tahun sebelumnya, tepatnya tanggal 14 Februari 1932. Peristiwa tersebut setiap tahun juga diperingati oleh segenap warga Pangestu dalam upacara Hari Pepadang.

Pada hari itu Sang Guru Sejati berkenan menurunkan pe-padang-Nya dengan perantaraan siswa-Nya bernama Soenarto Mertowardojo melalui tiga sabda yang terdengar jelas dalam hati sanubari yang suci (rahsa jati) siswa Soenarto.

- Sabda pertama menjelaskan apa arti Ilmu Sejati,

- Sabda kedua menerangkan siapa Sang Guru Sejati,

- Sabda ketiga berisi janji bahwa siswa Soenarto akan diberi pembantu dua orang, yaitu Hardjoprakoso dan Soemodihardjo. Bertiga mereka diperintahkan untuk menyebarluaskan ajaran-Nya.

Sang Guru Sejati juga bersabda bahwa akan ada orang-orang yang tidak percaya kepada mereka, tetapi mereka tidak boleh berkecil hati, akan ada orang yang menertawakan dan meremeh-kan mereka, tetapi mereka tidak boleh sakit hati, dan mereka tidak boleh waswas dan cemas apabila ada yang memfitnah me-reka, sebab yang memegang ukuran dan timbangan adalah Sang Guru Sejati sendiri.

Tiga bulan kemudian (bulan Mei) datanglah dua orang yang disebutkan dalam sabda Sang Guru Sejati ke rumah Pakde Narto di Widuran, yang belum beliau kenal secara pribadi.

Hardjoprakoso yang disebut dalam sabda itu adalah Raden Tumenggung Hardjoprakoso, Bupati Anom pada Swapraja Mangkunegaran, seorang ahli filosofi, sedangkan Soemodihardjo yang disebut oleh Sang Guru Sejati dalam sabda-Nya itu adalah Raden Trihardono Soemodihardjo, seorang muslim yang saleh dan ahli dalam agama Hindu, Buddha, dan Konghuchu.

Pada pertemuan mereka bertiga itu, yakni tanggal 27 malam 28 Mei 1932, atau malam Sabtu Pahing tanggal 21 Sura 1863, Sang Guru Sejati menurunkan sabda-Nya dengan perantaraan Pakde Narto yang dicatat oleh Pak Menggung Hadjoprakoso dan Pak Soemodihardjo.

Ajaran Sang Guru Sejati yang diturunkan sampai bulan Januari 1933 itu dihimpun dalam tujuh buku tuntunan: Hasta Sila, Paliwara, Gumelaring Dumadi, Tunggal Sabda, Jalan Rahayu, Sangkan Paran, dan Panembah.

Kecuali Tunggal Sabda, semuanya segera diserahkan kepada sebuah percetakan swasta “Swastika” dan “De Bliksem” di Sura-karta untuk diterbitkan. Keenam buku tuntunan tersebut ditulis dalam bahasa Jawa dan dicetak dengan huruf Jawa.

Atas saran dan nasihat Bapak Paranpara, Pakde Narto, buku-buku berhuruf Jawa itu ditulis kembali dengan huruf Latin untuk memudahkan mereka yang tidak mengerti aksara Jawa. Pada tahun 1954, atas usaha Kolonel Moersito, Ketua cabang Pangestu Jakarta yang pertama, semua buku tuntunan ajaran Sang Guru Sejati tersebut, termasuk Tunggal Sabda, dapat diterbitkan dalam satu jilid dengan nama Sasangka Jati yang berarti Pepadang Sejati.

Nama Sasangka Jati adalah pemberian Pakde Narto dan untuk pertama kali dipakai pada tahun 1950 di Jalan Nias 4, Bandung, dalam suatu cerita tentang pertemuan Pakde Narto dengan kakaknya, Kapten Sasangka Jati yang sebenarnya adalah lukisan tentang panembah. Pertemuan tersebut adalah bertunggainya Roh Suci (dari Pakde Narto) dengan Sasangka Jati.

Ketika pustaka Sasangka Jati dicetak kembali pada tahun 1960, “Ular-ular” dari para pencatat, atas perkenan Pakde Narto, tidak disertakan lagi, tetapi diterbitkan terpisah.

Penerjemahan buku-buku tuntunan ke dalam bahasa Indonesia telah dimulai pada tahun 50-an, yang selesai baru Hasta Sila, Paliwara, dan Gumelaring Dumadi. Pada tahun 1960 semua buku tuntunan selesai diterjemahkan dan kemudian dicetak. Hasil cetakan itu dipersembahkan kepada Pakde Narto pada Kongres III tahun 1961. Meskipun pada sampulnya tertera Sasangka Jati, sebenarnya masih merupakan buku-buku terpisah yang hanya dijilid menjadi satu. Pada waktu itu Pakde menyatakan kekecewaan beliau. Pada cetakan berikutnya, kesalahan telah diperbaiki, ketujuh buku tuntunan tersebut sudah merupakan suatu kesatuan sebagai pustaka Sasangka Jati dalam bahasa Indonesia.

Penedemahan Sasangka Jati ke dalam bahasa Sunda selesai dikerjakan pada tahun 1964. Pustaka Sasangka Jati telah juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Bapak dr. Marsaid Soesilo dengan judul True Light dan terbit tahun 1965.

Kalau Sasangka Jati diibaratkan sumur, maka Pakde Nartolah yang dengan susah payah telah menggali sumur tersebut, sedangkan Bapak Hardjoprakoso yang menemboki sumur itu hingga sentosa dan Bapak Trihardono Soemodihardjo yang melengkapi sumur yang telah ditembok itu dengan perkakasnya, yakni ember dan talinya.

Sabda-sabda yang diterima Bapak Soenarto pertama kali Dada 14 Februari 1932 juga telah terhimpun dalam buku Sabda Pretama dan dicetak pada tahun 1967.

Sejak Bapak Soenarto menerima Wahyu Sasangka Jati pada tahun 1932 itu, rumah beliau di Widuran hampir setiap malam didatangi tamu yang ingin menyiswa untuk mendengar pepadang ajaran Sang Guru Sejati. Namun, jumlahnya masih terbatas dan umumnya berusia di atas 40 tahun, yang termuda adalah Pakde Narto dengan usia 33 tahun.

Pada setiap bulan purnama, pertemuan olahrasa, disebut purnamasiden, diadakan di rumah kediaman Bapak Hardjoprakoso.

Hingga tahun 1942 belum banyak orang yang menyiswa meskipun buku-buku pepadang ajaran Sang Guru Sejati telah dikirim ke instansi-instansi terkait dalam pemerintahan dan juga kepada para bupati di luar daerah Surakarta. Tidak ada respons yang berarti, hanya satu dua membalas pengiriman buku-buku tersebut dengan memberikan tanda penghargaan.

Ketika pemerintah Belanda pada tahun 1942 digantikan oleh Jepang, selama masa tiga tahun Jepang berkuasa, pertemuanpertemuan olahrasa terhenti, semua orang sibuk dengan pekerjaan dan urusan masing-masing. Ikatan penyiswaan belum ada. Pada masa itu, Bapak Hardjoprakoso, salah seorang siswa pelopor Sang Guru Sejati, wafat pada 22 Agustus 1942.

Oleh karena keadaan, Bapak Soenarto jarang bertemu dengan Bapak Soemodihardjo. Namun, walaupun tidak ada pertemuan olahrasa dengan Pakde Narto, mereka yang telah mengenal pepadang ajaran Sang Guru Sejati, melanjutkan penyiswaannya dalam heti sanubari masing-masing.

Ketika Indonesia telah berdiri sebagai negara yang merdeka, para Siswa di Solo pada tahun 1946, dalam jumlah yang masih terbatas mulai menyelenggarakan pertemuan olahrasa lagi di kediaman Bapak Soenarto di Jalan Gondang 7.

Sementara itu, Belanda ingin menguasai kembali bekas jajahannya dan terjadilah spa yang disebut dengan          Clash I dan Clash II. Belanda berhasil menduduki kota Solo pada 21 Desember 1948. Para pemuda kita tidak tinggal diam, mereka mengangkat senjata dan melancarkan perang gerilya terhadap Belanda. Pada waktu itu keadaan kota Solo sangat menyedihkan, rakyat menderita dan korban banyak yang jatuh.

Pakde sangat prihatin, beliau berniat untuk bertapa brata motion sih dan perlindungan Tuhan Yang Mahakuasa bagi bangsa Indonesia yang sangat menderita. Demikianlah, pada 13 April 1945 Pakde bertapa brata dengan jalan ngamar dan barn keluar pada 21 April bertepatan dengan hari ulang tahun beliau yang ke-50.

Selama ngamar itu Pakde Narto telah menerima sabda dari Sang Guru Sejati bahwa perjuangan bangsa Indonesia akan lekas selesai dan Indonesia akan jays. Hal itu oleh Pakde Narto kemudian diwujudkan dengan selamatan nasi merah putih yang di dalamnya terpendam lank pauknya. Setelah hajat selamatan ulang tahun itu, Pakde melanjutkan niat suci beliau dengan ngamar.

Pada permulaan tahun 1949, kota Solo masih dalam pendudukan Belanda, tetapi Pakde Narto tetap menyebarluaskan pepadang ajaran Sang Guru Sejati kepada para siswa, yang secara teratur hadir pada pertemuan olahrasa di rumah kediaman beliau meskipun jumlah mereka belum banyak.

Oleh karena ada larangan bekumpul lebih dari 5 orang dan pemberlakuan jam malam dari jam 6 sore hingga jam 6 pagi, mereka datang secara sendiri-sendiri sebelum berlakunya jam malam dan pulang setelah jam malam berakhir.

Pada waktu itu, Pakde juga mulai memberikan semacam ceramah penerangan khusus untuk wanita.

Pada tanggal 20 Mei 1949, jam 11.00 pagi, tujuh orang ibu hadir di Jalan Gondang 7 untuk mendengarkan ceramah Pakde yang diberikan beliau dalam bahasa Jawa. Ketika itu Pakde memberikan Pangesti I dan II Berta menerangkan kegunaannya dan memberi wejangan tentang pepadang ajaran Sang Guru Sejati. Kira-kira pukul 12.00 Pakde berdiam diri mengheningkan cipta dan tidak lama kemudian beliau menyatakan bahwa Sang Guru Sejati berkenan memberi sabda.

Itulah sabda Sang Guru Sejati yang pertama kepada para siswa sebelum kelahiran organisasi Pangestu pada sore harinya seperti yang disebutkan di atas.

Dengan sabda tanggal 20 Mei itu, Sang Suksma Sejati menunjukkan bahwa suatu organisasi sangat diperlukan untuk menyebarluaskan pepadang ajaran-Nya.

Setelah Pangestu berdiri, jumlah anggota semakin meningkat sehingga rumah Pakde Narto di Jalan Gondang 7 tidak lagi mencukupi untuk berolahrasa. Make sejak 1 November 1949, pertemuan olahrasa diadakan di pendopo rumah Bapak Soeratman di Jalan Ngentak 111/3, Manahan (kini Jalan Rajawali 111/3). Jadwal pertemuan diatur menjadi setiap Minggu sore untuk golongan prig dan setiap Jumat pagi untuk wanita.

Selain olahrasa wanita, tidak lama atau 18 hari kemudian setelah kelahiran Pangestu, Pakde Narto membentuk pamiwahan putra. Ketika itu Pakde merasakan keprihatinan yang mendalam atas keadaan masyarakat yang sedang diliputi kegelapan dan adanya kerusakan budi pekerti bangsa yang berada di wilayah pendudukan Belanda. Banyak di antara anak-anak kurang mendapat bimbingan tentang kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal itu menggerakkan hati Pakde untuk mendekat kepada Sang Guru Sejati dengan jalan tapa brata. Maka, pada waktu itu Pakde menerima pepadang Sang Guru Sejati agar anak-anak dihimpun dan di wiwaha (dimuliakan) untuk diperbaiki budi pekertinya supaya jiwanya tidak rusak. Pamiwahan diadakan untuk putra-putri di bawah umur 12 tahun dan untuk pertama kali dilangsungkan pada tanggal 8 Juni 1949, dipimpin sendiri oleh Pakde Narto.

Pertemuan-pertemuan olahrasa pada era tahun 50-an sangat berbeda dengan olahrasa yang diadakan sekarang. Pada awal berdirinya Pangestu, Pakde Narto adalah pengisi tunggal olah-rasa, kemudian bersama dengan Pakde Soemo.

Pada olahrasa itu Pakde Narto tidak selalu terus-menerus memberikan wejangan tentang ajaran Sang Suksma Sejati dan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Kadang-kadang dengan ti-dak terduga, beliau memberi ujian atau testing mengenai hal-hal yang telah beliau utarakan. Pada waktu olahrasa, Pakde ada kalanya juga melagukan tembang atau membacakan syair yang telah beliau gubah. Tembang-tembang tersebut telah dibukukan dalam Warisan Langgeng dan Sesotya Rinonce.

Pada masa itu Pangestu berkembang pesat. Pada tahun 1949 itu Sang Guru Sejati berulang kali menurunkan sabda. Meminjam kata-kata Bapak Dr. Soemantri, seakan-akan Sang Suksma Sejati memanjakan para siswa-Nya.

Rangkaian sabda yang turun dalam periode 1949 hingga 1961 telah terhimpun dalam buku Sabda Khusus, dicetak pertama kali pada tahun 1967. Terjemahannya dalam bahasa Indonesia terbit pertama kali pada tahun 1967.

Pada bulan Januari 1950, Pakde Narto dipindahkan ke Jakarta kemudian ke Bandung. Kepindahan beliau ke Jawa Barat itu membawa hikmah, sebab di tempat yang baru itu Pakde menyebarluaskan pepadang ajaran Sang Guru Sejati sehingga pada 8 Agustus 1950 dapat didirikan Pangestu Cabang Bandung yang merupakan cabang pertama di luar Solo.

Apabila kepindahan Pakde Narto dari Solo itu memungkinkan penyebarluasan ajaran Sang Guru Sejati dengan berdirinya cabang-cabang baru, maka Pangestu Cabang Solo mengalami masa surut yang cukup berarti, lebih-lebih ketika Pakde Soemo juga pindah ke Bandung pada bulan Agustus 1952.

Hal tersebut menjadi keprihatinan Pakde Narto yang beliau utarakan dalam wejangan beliau pada Kongres I tahun 1954 di Solo. Kalau sebelumnya yang datang pada olahrasa 50 atau 60-an, kemudian menjadi 10,5,3, hingga 2 orang saja. Itu barangkali karena hanya melihat Pakde Narto atau Pakde Soemo. Janganlah hal itu terjadi lagi. Meskipun Pakde Narto, Pakde Soemo, dan pamong lain tidak ada, penyiswaan kepada Sang Guru Sejati ja-ngan sampai surut dan tetaplah menghadiri olahrasa.

Kini penyelenggaraan olahrasa sudah jauh berbeda, tidak lagi sepanjang malam (ketika ada peraturan jam malam), tetapi dibatasi hingga dua jam.

Berpuluh-puluh siswa sudah bertindak sebagai juru penabur dan pengisi olahrasa. Hal itu membuktikan bahwa sudah banyak siswa yang mendalami pepadang ajaran Sang Suksma Sejati sehingga mampu menyebarluaskan pepadang ajaran-Nya berkat pendidikan penataran (Calon Juru Penabur).

Dengan adanya Pangestu, pepadang ajaran Sang Suksma Sejati makin tersebar luas. Cabang-cabang Pangestu di luar kota Solo mulai berdiri. Untuk menyebutkan beberapa cabang saja yang lahir pada waktu Pakde masih sugeng, yaitu Bandung, Jakarta, Cirebon, dan Bogor di Jawa Barat; Semarang, Yogyakarta, Solo, dan Magelang di Jawa Tengah; Surabaya, Malang, Kediri, dan Jember di Jawa Timur. Kemudian di luar Pulau Jawa diresmikan cabang Bali di Denpasar. Solo yang pada awalnya berkedudukan sebagai pengurus pusat kemudian membentuk cabang pada tahun 1954 sedang pengurus pusat mulai tahun 1959 berkedudukan di Bandung dan kemudian menetap di ibu kota Republik Indonesia.

Bapak paranpara Pangestu, Pakde Narto, antara tahun 1962 – 1965 beberapa kali mengadakan kunjungan ke cabang-cabang Pangestu di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Pada waktu itu sebenarnya kesehatan badan jasmani Pakde sudah mulai mundur. Kunjungan beliau terakhir sebelum beliau wafat pada 16 Agustus 1965 adalah ke Cabang Purwokerto dan Magelang pada bulan Juli 1965.

Ulang tahun Pakde Narto tanggal 21 April selalu dihadiri para warga Pangestu untuk meyatakan rasa cinta dan bakti mereka kepada Bapak Paranpara. Apabila semula peringatan ulang tahun Pakde cukup diselenggarakan di Manahan, kemudian harus pindah ke gedung yang lebih besar dan terakhir diadakan di Dalem Kalitan yang mempunyai pelataran yang luas.

Gambaran peningkatan warga Pangestu yang menghadiri peringatan ulang tahun Pakde adalah sebagai berikut. Pada tahun 1961, 150 orang, tahun 1962 menjadi 850 orang, tahun 1963, 1500 orang, tahun 1964, 1800 orang dan pada tahun 1965, ulang tahun Pakde yang ke-66 dan yang terakhir dihadiri oleh 3500 orang.

May 21, 2012
pit.master
0 comments

PANGESTU SEBAGAI “FAKULTAS PSIKOLOGI”

PANGESTU SEBAGAI “FAKULTAS PSIKOLOGI”

Prof. Dr. Ir. Harsono Taroepraqeka

 

Pendahuluan

Pakde Narto, selaku paranpara Pangestu, pada Kongres ke-3 di Solo tahun 1961 dalam prasarannya menyampaikan bahwa organisasi Pangestu adalah lain dari organisasi yang lain, karena Pangestu merupakan ruangan pendidikan ilmu jiwa untuk membangunkan perikemanusiaan dan mempertinggi budi pekerti. Pangestu dapat dikatakan suatu “Fakultas Psikologi” .

Pangestu adalah suatu organisasi, suatu wadah, bagi warganya yang bercita-cita untuk dapat menjalani kehidupannya di masyarakat dengan damai dan bahagia, dan bahkan mempersiapkan dirinya untuk sewaktu-waktu memenuhi panggilan Tuhan dengan ikhlas kembali kepada-Nya. Dalam kancah tersebut warga dapat melakukan pengolahan jiwa, agar dapat mencapai cita-cita tersebut. Para warga dibekali dengan tuntunan yang cukup lengkap untuk menjalani kehidupan di dunia ini dan mempersiapkan diri untuk kembali kepada Tuhannya, berkat tuntunan yang yang diwahyukan-Nya melalui paranpara Pangestu, Bapak R. Soenarto Mertowardojo pada tahun 1932-1933 (terhimpun dalam Sabda Pratama dan Sasangka Jati), dan rangkaian wahyu yang diturunkan antara tahun 1949 sampai 1960 (terhimpun dalam Sabda Khusus). Dalam wadah ini, apabila warga memeluk suatu agama, warga diminta untuk lebih menekuni lagi agamanya dengan menjalankan kewajiban dalam agamanya sebaik-baiknya.

Dalam disertasinya, alm. Prof. Dr. Soemantri Hardjoprakoso, menyebutkan bahwa tiap kebudayaan di dunia ini mempunyal candra jiwanya sendiri-sendiri, yang digunakan sebagai pegangan untuk mengembangkan diri dan untuk mempertahankan dirl di dunia dan di akhirat. Di dunia maupun di Indonesia, banyak konsep candra jiwa yang telah ada. Namun, wahyu yang diterlma oleh Bapak R. Soenarto Mertowardojo ini merupakan candra (candra jiwa dan candra dunia) yang mengandung bahan yang paling lengkap, yang berasal dari satu sumber.

Tuntunan tersebut dilengkapi dengan konsep-konsep tentang Tuhan sebagai Asal-Tujuan Hidup, serta posisi manusia terhadap-Nya, bagaimana manusia harus menyadari tentang asal dan tujuan hidupnya, bagaimana manusia perlu menjalani kehidupannya mencapai tujuan hidupnya, yaitu kembali kepada Sang Pencipta, bagaimana manusia dibekali dengan alat-alat yang sempurna untuk mencapai tujuannya, tetapi juga manusia dikaruniai otonomi, yang membawa konsekuensi untuk mampu mengendalikan diri dan alat-alat kehidupannya, dan mampu memilih untuk menempuh jalan yang benar atau jalan yang menyimpang dalam perjalanan mencapai tujuannya.

Konsep tentang Asal-Tujuan Hidup mengandung makna abadi (bukan sekadar universal), bukan hanya tidak tergantung dari ruang, tetapi juga tidak tergantung dari waktu. Bahkan ruang dan waktu adalah ciptaan-Nya. Asal-Tujuan Hidup ini adalah “Satu Yang Bersifat Tiga” disebut Tripurusa, yaitu Suksma Kawekas (sifat Karsa), Suksma Sejati (sifat Bijaksana) dan Roh Suci (sifat Kuasa). Dijelaskan pula bagaimana manusia secara analitis diuraikan atas unsur-unsurnya, serta hubungannya dengan dunia besar, dan hubungannya dengan Tripurusa.

Namun, lengkapnya tuntunan tersebut, ada kalanya juga membawa pengertian yang tidak benar pada berbagai pihak di masyarakat, yang tidak memahami seluruh pengertian yang ada dalam pedoman-pedomannya. Beberapa pihak menilainya sebagai suatu ilmu atau gerakan kebatinan (klenik), suatu agama baru, ataupun dianggap musyrik, dan pengikutnya (warga Pangestu) dianggap sebagai orang-orang yang mengikuti agama baru, musyrik, atau mengikuti aliran klenik. Tentu saja anggapan-anggapan tersebut tidak benar, karena tidak sesuai dengan ajaran serta penjelasannya.

Ajaran yang diikuti oleh warga Pangestu bukanlah ilmu kebatinan (klenik), bukan agama, bukan pula musyrik. Ajaran yang diikuti warga Pangestu adalah tuntunan pengolahan jiwa, dilengkapi dengan gambaran (anatomi) susunan jiwa manusia, petunjuk mengenai jalan yang benar dan jalan simpangan, serta berbagai prosedur dan langkah untuk dapat berjalan di jalan yang benar, dan menjauhi jalan simpangan. Bila seseorang mampu mengolah jiwanya sendiri, barangkali is dapat membantu orang lain dalam mengolah jiwa mereka, untukn mencapai kebahagiaan, ketenteraman dan kesejahteraan abadi. Oleh karena itu, Pangestu sebagai wadah belajar untuk pengolahan jiwa, dengan analisis langkah-langkah dan tujuannya, lebih menyerupai suatu Fakultas Psikologi, dan bukan wadah yang mengajarkan hal-hal yang musyrik, mengembangkan agama baru, ataupun klenik, Berikut ini adalah beberapa gambaran mengenai hal tersebut.

Inti Ajaran Sang Guru Sejati

Pada Ajaran Sang Guru Sejati ditampilkan:

•           Sifat-sifat dan cara hidup manusia untuk mencapai “kebahagiaan sejati”, ialah kembali kepada Tuhan, sebagai ajaran budi pekerti luhur bagi manusia.

•           Sistematika sifat, fungsi, atau hierarki dari konsep Ketuhanan, yang menggambarkan bahwa Tuhan itu Mahatunggal dan bersemayam di hati sanubari manusia.

•           Sistematika kejiwaan manusia, yang dapat menggambarkan bagaimana manusia dapat mengembangkan budiluhur dan mendekat kepada Tuhan dengan mengendalikan kejiwaannya.

Inti ajaran ini mengungkapkan bahwa

•           Tuhan itu bersatu dengan diri kita (ada di dalam diri kita)

•           Tuhan itu tunggal. Keadaan Tuhan yang tunggal itu mempunyai tiga sifat yang ‘hirarkis, yaitu:

o          Suksma Kawekas: Sifat Karsa: Allah Taala

o          Suksma Sejati: Sifat Bijaksana: Utusannya yang Sejati / Abadi, dan

o          Roh Suci: Sifat Kuasa: jiwa suci masing-masing manusia

•           Tuhan Yang Mahatunggal dengan tiga sifat tersebut dinamakan Tripurusa

•           Hubungan hierarkis antara ketiga sifat tersebut menjadi titik central dalam perilaku kehidupan manusia

•           Bahwa manusia mempunyai kewajiban untuk selalu Sadar terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Percaya kepada-Nya, dan Taat kepada semua perintah-Nya (Tri Sila)

•           Bahwa manusia perlu memiliki watak Rela, Tawakal (narima), Jujur, Sabar, dan Budiluhur (Panca Sila)

•           Bahwa manusia harus menjauhi 5 larangan Tuhan (Paliwara), yaitu jangan menyembah kepada selain Allah, berhati-hati mengenai syahwat, jangan makan atau menggunakan makanan yang memudahkan rusaknya badan jasmani, mematuhi undangundang negara, dan jangan bertengkar

•           Bahwa ada 5 jalan atau perilaku (Jalan Rahayu) untuk memudahkan mencapai hal-hal tersebut, yaitu paugeran, panembah, budi darma, mengekang hawa nafsu, dan budiluhur

•           Warga Pangestu wajib melaksanakan Dasa Sila, Pedoman Dasar Pangestu:

1. Berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa

2. Berbakti kepada Utusan Tuhan

3. Setia kepada Khalifatullah (pembesar Negara) dan Undang-undang Negara

4. Berbakti kepada Tanah Air

5. Berbakti kepada orang tua (ayah-ibu)

6. Berbakti kepada saudara tua

7. Berbakti kepada guru

8. Berbakti kepada pelajaran keutamaan

9. Kasih sayang kepada sesama hidup

10. Menghormati semua agama

Tripurusa

Tripurusa menggambarkan keadaan Tuhan Yang Maha Esa, yang diungkapkan sebagai keadaan satu bersifat tiga: Suksma Kawekas, Suksma Sejati, Roh Suci. Prof. Dr. Soemantri Hardjoprakoso mengibaratkan Tripurusa seminal air: Suksma Kawekas ibarat air dalam samudra yang luas dan dalam, tenang dan memiliki potensi besar. Suksma Sejati ibarat air pada permukaan samudra, berombak, dinamis, mempunyai kekuatan rill. Roh Sud ibarat titik-titik uap air, yang kecil, terbatas, tersebar, tetapi air juga, dan suci juga.

Bila Suksma Kawekas diibaratkan samudera, Suksma Sejati diibaratkan sebagai ombak dan dinamika permukaan laut, Roh Suci pada diri manusia diibaratkan sebagai uap air. Suksma Sejati juga disebut sebagai Guru Sejati, karena fungsinya sebagai penuntun dan guru sejati manusia.

Roh Suci adalah jiwa manusia yang sejati. Sedang fisik dan angan-angan, pikiran dan perasaan manusia adalah wadah atau bungkusnya, yang diciptakan Tuhan agar manusia dapat melaksanakan tugasnya menjalankan kehendak Tuhan. Namun, seringkali fisik dan angan-angan justru menjadi penghambat, karena dengan otonominya, manusia kadang-kadang melupakan jatinya

Prof. Dr. Soemantri Hardjoprakoso menggambarkan Suksma Kawekas, Suksma Sejati, Roh Suci, sebagai berikut:

Sebelum ada apa-apa yang berbentuk dan berwujud, Suksmo Kawekas telah bertakhta pribadi. Suksma Kawekas dapat dipandang sebagai asal mula Kesadaran Hidup yang tidak terbatas, tenang, tenteram, dan tidak bergerak. Di dalamnya terkandung kemampuan yang tidak terbatas, suatu omnipotensi (potensi tak terbatas) yang belum bergerak. Di dalam Kesadaran Agung yang diam ini terkandung Kehendak untuk melepaskan cahaya-cahaya kemampuan dan kesadaran dari Yang Maha Agung, tetapi belum ada kancahnya.

Untuk melaksanakan Kehendak tersebut, potensi tak terbatas yang diam tadi mulai bergerak.

Bergeraknya potensi tak terbatas mengeluarkan kejayaan dan dayanya, semisal air yang dapat membangkitkan tenaga listrik. Segala kekuatan air yang bergerak berasal dari yang diam. Bilamana Suksma Kawekas diumpamakan air yang diam, air yang bergerak adalah simbolnya Suksma Sejati.

Suksma Kawekas adalah Kesadaran Hidup yang statis, Suksma Sejati adalah Kesadaran Hidup yang Dinamis. Suksma Kawekas yang mempunyai kekuasaan, Suksma Sejati yang memegang kekuasaan. Air yang bergerak seolah-olah disuruh oleh air yang diam untuk menunjukkan kekuasaannya. Suksma Sejati adalah Utusan Yang Abadi dari Suksma Kawekas dan merencanakan Kehendak Suksma Kawekas. Kesadaran Agung ini bersuasana kasih sayang. Di dalam Suksma Kawekas terdapat sifat Kehendak (Karsa), di dalam Suksma Sejati terdapat sifat Kebijaksanaan.

Cahaya-cahaya yang dilepaskan oleh dan dari Suksma Sejati belum ada kancahnya. Cahaya-cahaya yang kecil ini semisal titik-titik air yang menguap dari samudra yang tidak ada batasnya. Samudra yang diam simbolnya Suksma Kawekas, samudra yang bergelombang candranya Suksma Sejati. Titik-titik air yang menguap dan melepaskan diri dari samudra adalah kecil dan terbatas bila dibandingkan dengan samudra, tetapi sama-sama air.

Roh Suci adalah kecil dan terbatas bila dibandingkan dengan Suksma Kawekas dan Suksma Sejati, tetapi sama-sama suci; padanya terkandung sifat Kuasa. Terbatasnya Roh Suci menimbulkan individualitas pribadi yang terbatas pula. Roh Suci pada waktu itu dikandung dalam suasana bahagia oleh Suksma Sejati dan Suksma Kawekas. Roh Suci menyadari bahwa barasal dari Suksma Sejati dan Suksma Kawekas, dan menyadari perimbangan hierarki antara Suksma Kawekas, Suksma Sejati, dan ia sendiri.

Waktu itu hanya ada kesadaran semata-mata, belum ada bahasa apapun, karena belum ada badan jasmani. Roh Suci menyadari bahwa ia harus kembali lagi meleburkan diri dalam Suksma Sejati dengan menghilangkan individualitasnya. Kesadaran ini bila ditedemahkan ke dalam kata-kata adalah seperti yang tercantum dalam Paugeran:

“Suksma Kawekas tetap menjadi Sembahan hamba yang sejati, adapun Suksma Sejati tetap menjadi Utusan Tuhan Sejati, serta menjadi Penuntun serta Guru hamba yang sejati.

Hanya Suksma Kawekas pribadi yang menguasai semesta alam seisinya, hanya Suksma Sejati pribadi yang menuntun para hamba semua.

Semua Kekuasaan ialah Kekuasaan Suksma Kawekas, berada di tangan Suksma Sejati, adapun hamba ada di dalam Kekuasaan Suksma Sejati.

Kesadaran pertama ini yang akan dipakai sebagai pedoman hidup, dan semua petunjuk yang asainya dari Suksma sejati atas kehendak Suksma Kawekas berintisarikan hal ini (“syahadat’).

Kesatuan dan keseluruhan Suksma Kawekas, Suksma Sejatl dan Roh Suci adalah Tripurusa. Maka keadaan Tuhan Yang Maha Esa disebut Tripurusa, artinya keadaan satu yang bersifat tiga, yaitu: Suksma Kawekas (Tuhan Sejati, Allah Taala), Suksma Sejati (= Penuntun Sejati = Guru Sejati): Utusan Tuhan Sejati, Roh Suci: jiwa manusia yang sejati

Dapat dimengerti bahwa dalam rangkaian ajaran ini dicakup sifat Tuhan Yang Maha Esa dan berbagai aspek kehidupan menuju kebahagiaan dan kejiwaan. Tujuan ajaran ini hanyalah ingin mengingatkan kembali kewajiban manusia, dan menunjukkan jalan yang benar dan jalan simpangan menuju ke kebahagiaan, ketenteraman, dan kemuliaan abadi, yaitu ke haribaan Tuhan Yang Maha Esa. Pada ajaran Sang Guru Sejati ini ditampilkan:

•           Sifat-sifat dan cara hidup manusia untuk mencapai “kebahagiaan sejati” ialah kembali kepada Tuhan, sebagai ajaran budi pekerti luhur bagi manusia.

•           Sistematika sifat, fungsi, atau hierarki dari konsep Ketuhanan, yang menggambarkan bahwa Tuhan itu Mahatunggal dan bersemayam di hati sanubari manusia.

•           Sistematika kejiwaan manusia, yang dapat menggambarkan bagaimana manusia dapat mengembangkan budi luhur dan mendekat kepada Tuhan dengan mengendalikan kejiwaannya. Sistematika kejiwaan ini ditampilkan oleh Prof. Dr. Soemantri Hardjoprakoso dalam disertasinya: “Indonesisch Mensbeeld als Basis ener Psycho-therapie” di Rijksuniversiteit, Leiden (1956), yang kemudian disempurnakan menjadi skema “Candra Jiwa Soenarto”. Sistem kejiwaan ini memberikan petunjuk untuk mengembangkan diri menuju pada kebahagiaan kehidupan sejati. Sistem kejiwaan ini lebih menggambarkan ajaran budi pekerti, psikologi, kejiwaan, dan bukan suatu “agama”; ajaran ini bahkan mengajak untuk menghormati semua agama.

Ajaran dalam Pangestu bukan agama dan bukan gerakan kebatinan

Ajaran Sang Suksma Sejati di atas memberikan pedoman yang sangat luas mengenai asal dan tujuan hidup, kesanggupan yang harus dipenuhi (Tri Sila), petunjuk untuk dapat memenuhi kesanggupan tersebut dengan watak yang harus dibangun, larangan yang harus dihindari, dan perilaku yang perlu dikembangkan agar kita dapat memenuhi kesanggupan tersebut (Panca Sila, Paliwara, Jalan Rahayu). Juga dalam Sasangka Jati diberikan gambaran mengenai jiwa manusia dan alam seisinya, gambaran siklus kehidupan pada berbagai alam, dsb.

Dalam perjalanan perkembangannya, organisasi Pangestu mengalami berbagai situasi politik dan kemasyarakatan yang tidak selalu stabil, yang dapat menimbulkan prasangka dan pengertian yang tidak benar terhadap organisasi ini. Demikian lengkapnya petunjuk tersebut, dengan istilah-istilah yang mengacu pada budaya dan sastera Jawa yang tinggi di tempat turunnya ajaran tersebut, sehingga orang yang tidak memahami, dapat members penilaian yang tidak benar. Penilaian yang kurang tepat mengenai organisasi Pangestu tersebut ada yang menempatkannya sebagai suatu aliran kebatinan. Ada pula yang menempatkan ajaran dalam Pangestu itu sebagai suatu agama.

Untuk menghilangkan keragu-raguan di antara anggota, terkait dengan suasana politik dan kemasyarakatan pada waktu itu, Berta untuk menempatkan organisasi Pangestu pada posisi yang seharusnya di masyarakat luas, pada 4 Juni 1961, Ketua Pusat Pangestu pada waktu itu, Dr. Soemantri Hardjoprakoso, mengeluarkan instruksi, yang memutuskan dan menetapkan, bahwa Pangestu adalah suatu kancah pendidikan dan pengolahan jiwa bagi semua umat Tuhan dan bukan suatu gerakan kebatinan seperti yang dimaksud oleh umum. Instruksi tersebut dibuat didasarkan pada:

1. sabda Suksma Sejati dalam Tunggal Sabda, bahwa Pangestu bukan agama,

2. prasaran Bapak Paranpara Pangestu dalam Kongres III tahun 1961, bahwa Pangestu adalah “Fakultas Psikologi”,

3. disertasi Dr. Soemantri Hardjoprakoso, “Indonesisch Mensbeeld als basis ener Psychoterapie”, yang sepenuhnya berdasarkan buku Sasangka Jati pustaka suci dan pedoman Pa-’ ngestu,

4. kenyataan bahwa pepadang Suksma Sejati yang diterima oleh

Bapak Paranpara R. Soenarto Mertowardojo adalah tuntunan bagi umat manusia untuk keperluan hidup di dunia sekarang ini, di samping tuntunan untuk mempersiapkan diri bila dipanggil kembali ke hadirat Tuhan,

5. pepadang Suksma Sejati yang tersimpan dalam Sasangka Jati berlaku bagi siapa saja dengan tidak memandang umur, jenis, bangsa dan golongan, dan

6. bahwa Pangestu memberikan kesempatan kepada umum melalui ceramah-ceramah tentang ajaran Suksma Sejati agar mengenal secara terbuka apa yang diajarkan dalam kalangan Pangestu, tanpa ikatan apa pun juga.

Selanjutnya, berbagai penguatan mengenai hal ini ditindak lanjuti dengan beberapa ketentuan dari Pengurus Pusat Pangestu.

Ajaran dalam Pangestu bukan musyrik

Pada berbagai tempat dalam Sasangka Jati disebutkan bahwa ajaran Suksma Sejati ini bukan agama, dan bagi warga yang memeluk agama dianjurkan untuk lebih menekuni agamanya, dengan menjalankan kewajiban dalam agamanya sebaik-baiknya. Namun karena penggunaan istilah-istilah tertentu seperti Tripurusa, Tuhan yang satu yang bersifat tiga, dan sebagainya, tidak jarang warga ataupun bukan warga yang merasa kurang jelas, apakah ajaran ini sesuai atau bertentangan dengan agama yang dianutnya. Dengan kata lain, ada yang ragu-ragu, apakah ajaran Sang Suksma Sejati ini musyrik atau tidak. Berikut ini dikutipkan suatu ungkapan berkenaan dengan hal itu.

Dalam dialog antara Bapak H. Chambali Alm (Abu Burhan, warga Pangestu cabang Solo Pasar Kliwon) dengan Bapak K. H. Zarkawi Toha pada sekitar tahun 1972, ditanyakan mengapa Bapak Chambali, sebagai seorang pemuka agama Islam dan sungguh-sungguh memahami Islam, menjadi anggota Pangestu. Apakah dianggap bahwa Islam kurang sempurna, atau apakah Pangestu lebih sempurna dari Islam?

Bapak Chambali menjawab, bahwa Pangestu bukan agama, melainkan kancah pengolahan atau pendidikan jiwa berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Baginya ajaran kejiwaan menurut ajaran [dalam] Pangestu mudah diterima sehingga sangat memuaskan, juga menjadi dorongan kuatnya iman dan menambah takwa, yang benar-benar dirasakannya.

Bahwa Bapak Chambali menjadi anggota Pangestu sama sekali tidak merintanginya dalam menunaikan ibadah, sebab Pangestu dan agama itu pisah. Pengolahan jiwa yang diajarkan Pangestu baginya sangat bermanfaat dalam menunaikan ibadah. Kebanyakan mengira, bahwa apabila seseorang telah menjadi anggota Pangestu, lalu meninggalkan agamanya. Itu sama sekali tidak benar. Bahwa justru Pangestu menganjurkan agar tekun menunaikan perintah agamanya, dan lebih khusyuk dalam menjalankan ibadah.

Beliau juga mengungkapkan sabda dalam Sasangka Jati yang mengatakan:

“Adapun ajaranku ini ibarat obor bagi mereka yang masih diliputi kegelapan dan yang membutuhkan pepadang-Ku. Maka bagi yang telah merasa mempunyai obor petunjuk agama Islam atau Kristen, tidak perlu memakai obor (ajaran)-Ku ini. Sedang bagi , yang tidak menghendaki atau tidak percaya akan petunjuk-Ku ini, Ku-peringatkan, segeralah mencari obor atau pepadang yang tersimpan dalam kitab suci Alquran atau Injil, yakni petunjuk sejahtera asal dari tuntunan agama Islam atau Kristen”.

Di bahagian lain dari dialog tersebut, Kiai Zarkasi Toha mempertanyakan, bahwa wahyu yang diterima oleh Bapak Soenarto dalam Sasangka Jati itu berisi perintah dan larangan, seperti halnya wahyu yang diterima oleh para Rasul juga berisi perintah dan larangan, yang kemudian mewujudkan agama. (Maksudnya, apakah ajaran Pangestu juga seperti agama)

Bapak Chambali menjelaskan bahwa walaupun Sasangka Jati berisi perintah dan larangan, dalam pelaksanaannya tidak mengandung hukum wajib bagi mereka yang percaya, melainkan merupakan petunjuk jalan benar dan jalan simpangan, dan mengingatkan mereka yang lupa akan kewajiban suci. Pangestu tidak berharap agar semua orang menjadi anggotanya. Tujuan utama Pangestu adalah agar semua manusia berjalan di jalan rahayu, dan memiliki budi pekerti utama serta iman yang benar. Bagi yang memeluk agama, hendaklah melaksanakan perintah agamanya dengan sungguh-sungguh berdasarkan kesucian hati, agar selamat hidupnya di dunia dan di akhirat. Demikian tujuan Pangestu.

Apa yang dilakukan pada Fakultas Psikologi?

Suatu Fakultas adalah satuan organisasi di Perguruan tinggi yang membidangi suatu ilmu tertentu. Fungsi suatu Fakultas adalah menyelenggarakan tridarma: pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat dalam bidang ilmunya.

Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada menyebutkan, bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, yang merupakan manifestasi (perwujudan) adanya kejiwaan pada manusia. Unit analisisnya adalah perilaku manusia, baik pada tingkat individu, maupun pada tingkat kelompok.

Selanjutnya dikemukakan, bahwa hukum-hukum perilaku dasar manusia tersebut dapat diamati dari:

a. Perspektif perkembangan manusia (dari sebelum lahir sampai usia lanjut),

b. Macam interaksi sosial yang dijalin (baik intrapersonal maupun interpersonal), dan

c. Komposisi manusia (fisik, mental dan spiritual), yang digunakan sebagai landasan dalam menjelaskan peristiwa yang terjadi di dunia sekolah, organisasi, industri, klinis, dan kemasyarakatan.

Maka dapat disimpulkan bahwa Fakultas Psikologi adalah tempat mahasiswa belajar mengenai teori-teori perilaku manusia, baik sebagai individu, kelompok (organisasi) maupun dalam masyarakat luas. Mereka juga mempelajari perilaku manusia waktu kanak-kanak, remaja, dewasa, maupun usia lanjut.

Di Fakultas Psikologi para dosen meneliti perilaku manusia, melalui berbagai teori dasar, untuk mengembangkan teori-teori baru atau lanjutan. Fakultas Psikologi juga memberikan pelayanan profesional kepada masyarakat yang memerlukan. Dengan teori, konsep, dan tats cara yang dikembangkan, mereka berupaya untuk membantu anggota masyarakat dalam menyembuhkan “penyakit-penyakit psikologis”.

Pada Fakultas Psikologi, siswa, dosen ataupun para ahli dapat:

•           mempelajari perilaku-perilaku dasar pada diri manusia maupun masyarakat (sosial, organisasi). Untuk itu perlu mengetahui unsur-unsur yang membentuk atau mempengaruhi perilaku atau yang dipengaruhi perilaku tersebut. Para siswa harus mempelajari gambaran mengenai unsur-unsur yang menyebabkan perilaku manusia.

•           mempelajari dan mengembangkan teori mengenai jiwa manusia dan interaksinya dengan lingkungannya (alam, manusia lainnya, alam pikirannyaltransenden). Untuk itu perlu dikembangkan konsep (model) mengenai jiwa manusia, kemudian menyusun dan melakukan percobaan-percobaan untuk dapat menduga perilaku dan interaksinya. Ibaratnya seorang peneliti perlu melengkapi informasi mengenai sifatsifat hal yang diteliti.

•           mempelajari dan mengembangkan cara-cara untuk memperbaiki (mengubah) perilaku, jalan pikiran, persepsi atau perasaan manusia, baik terhadap diri sendiri maupun pada lingkungannya. Untuk itu perlu diketahui apakah konsep (model) mengenai perilaku, jalan pikiran, pengembangan persepsi, dsb. tidak cukup baik, sehingga bila diberikan perlakuan (sentuhan, rangasangan, tindakan) tertentu, akan dapat berubah modelnya seperti yang diharapkan. Ibaratnya seorang peneliti yang akan memperbaiki sifat-sifat hal yang diteliti, untuk berubah menjadi sifat lain.

• mempelajari kompetensi dan menerapkannya secara profesional untuk membantu manusia, organisasi, ataupun masyarakat, untuk menata perilakunya sehingga dapat lebih balk mencapai hal-hal yang diinginkannya. Untuk itu perlu dikuasai konsep (model) perilaku manusia, masyarakat, atau organisasi, dan dikuasai cara-cara memilih dan memberikan tindakan (rangsangan), agar terjadi perubahan model seperti yang dikehendaki. Seperti halnya dokter, harus mampu mengenali kondisi pasien dari gejala yang diamati (mendiagnosis), dan memberikan obat atau tindakan yang tepat agar pasien sembuh (terapi).

Pada Fakultas Psikologi terdapat berbagai cabang ilmu yang didasarkan pada subjek, pendekatan, ataupun dasar pemikirannya (teori dasarnya). Pada Fakultas Psikologi dipelajari berbagai Teori Kepribadian dari berbagai aliran, misalnya Aliran Eksistensialis, Behavioris, Psikoanalitik, Aktualisasi Diri. Pemikir-pemikir pada aliran Psikoanalitik, antara lain, adalah Sigmund Freud, Alfred Adler, dan Carl Jung. Dalam disertasinya, Dr. Soemantrl Hardjoprakoso membandingkan pemikiran-pemikiran mereka dengan Ajaran dalam Sasangka Jati, yang disusun dalam skema Candra Jiwa Indonesia (Soenarto).

Ajaran Sang Guru Sejati pada disertasi Prof. Dr. Soemantri Hardjoprakoso (1956)

Disertasi alm. Prof. Dr. Soemantri Hardjoprakoso8 didasarkan pada candra jiwa dan candra dunia yang diterima sebagai “wahyu” oleh Bapak R. Soenarto Mertowardojo, dan bukan sebagai hasil pengamatan beliau (Bapak Soenarto) sendiri secara fisik atau mempelajari dari spa yang sudah ada. (Soemantri Hardjoprakoso, Indonesisch Mensbeeld als basis ener psychotheraphie, disertasi Doktor dalam ilmu Kedokteran di Rijkuniversiteit, Leiden, Nederland, 1956)

Selanjutnya disertasi tersebut menyebutkan, bahwa:

1. candra ini (candra jiwa dan candra dunia) mengandung bahan paling lengkap, yang berasal dari satu sumber.

2. candra ini merupakan “pembagi persekutuan terbesar” dari semua candra yang ada di Indonesia (menyangkut semua aspek dari candra-candra yang ada di Indonesia – pen.)

3. candra ini menunjuk kepada perbedaan-perbedaan hakiki antara candra jiwa yang bertujuan pada pengembangan diri (the Self), dan candra jiwa yang menuju kepada kekuatankekuatan di luar diri.

4. candra ini menampilkan kemungkinan esensi dan eksistensi manusia untuk bersatu (melebur) ke dalam Yang Maha Absolut (transenden).

5. dari sarinya dapat disusun suatu terapi psikologis (psychotherapy)

6. candra ini menunjukkan kelebihannya bila dibandingkan de-

ngan candra yang dikembangkan oleh Freud, Adler, dan Jung

( “dapat bertahan dengan gemilang” : het kan een vergelijking met de mens en wereldbeelden van Freud, Adler, en Jung glansrijk doorstaan).

7. candra ini menampilkan potensi-potensi di dalam diri manusia, yang di kemudian hari dapat mempunyai arti teoretis dan praktis.

Beberapa ungkapan pembandingan yang ditulis dalam disertasi tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

Freud

Dari ungkapan-ungkapan Freud dapat diambil kesan, bahwa di dalam diri manusia tidak ada sesuatu yang agung. Pedoman hidup dari individu bagi Freud adalah asas nikmat dan tidak nikmat.

… Perbedaan yang hakiki antara kedua candrajiwa [candrajiwa Freud dan candrajiwa Indonesia] itu adalah diterimanya suatu asas immaterial di dalam candrajiwa Indonesia, yang merupakan bagian yang hakiki dari manusia, dan yang eksistensinya sama sekali tidak tergantung dari hidup jasmani (berdaulat mutlak). (h. 183, terj. h. II-49)

Adler

Jika kita bandingkan sistem Adler dengan candrajiwa Indonesia secara skematis (lihat skema IV), maka terdapat persamaan selama manusia memandang ke dunia luar. Lagi pula persamaan ini menentukan syarat-syarat dari hati nurani, yaitu bagaimana berkelakuan terhadap dunia luar. Di dalam candrajiwa Indonesia, yang menyusun hati nurani adalah penga lama n-pengalaman phylogenetis dan ontogenetis, yaitu selama sikap manusia bersifat ekstravers. Tetapi segera setelah manusia menghadap kepada yang immanen yang bersifat immaterial, maka pada hati nurani itu ditambahkan suatu faktor yang bukan empiris. Syaratsyarat yang dibuat hati nurani kepada sang aku di dalam candrajiwa Indonesia adalah sifat-sifat yang tercakup dalam Pancasila, yaitu: 1. rela, 2. narima, 3. jujur, 4. sadar dan 5. budiluhur. Kalau kita menganalisa lebih lanjut dan mengikut sertakan dalam perjumpaan manusia dengan dunia luar, maka rela merupakan stabilitas afektif pada waktu manusia merelakan apa dirasa memiliki kepada dunia luar….

… Jadi Pancasila menunjukkan persamaan dengan tiga sila dari sistem Adler dan dalam bersikap ekstravers benar-benar merupakan suatu peraturan untuk dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat. Di dalam sikap intravers, Panca Sila merupakan cars membentuk watak untuk keperluan Tri Sila, yaitu sadar, percaya, dan taat kepada pimpinan Tripurusa yang bersifat immanen. Adler tidak menunjukkan adanya kemungkinan untuk mengharmoniskan hubungan-hubungan intrapsikis dengan sesuatu yang immanen di dalam manusia yang eksistensinya tidak tergantung dari dunia luar. Di dalam candrajiwa Indonesia secara potensial ada jalan keluar bagi sang aku sebagai kompleks pengatur untuk melepaskan diri dari keadaan tedepit di antara hati nurani dan dorongan-dorongan a-sadar h. 192-193 (terj. h. II-57)

Jung

Apakah perbedaan dan persamaan di antara candrajiwa Jung dan candrajiwa Indonesia? Secara keseluruhan garis besar candrajiwa Jung sama dengan candrajiwa Indonesia. Sang aku, yang pada kedua candrajiwa itu menduduki tempat sentral dalam psyche yang sadar, memiliki kedaulatan (mengambil keputusan bila harus memilih), mempunyai potensi untuk menghendaki sesuatu, dan harus memimpin bagian-bagian lain dari psyche. (h. 209, ted. h. II-74-75)

Ada pula kesamaan yang lain, yaitu contoh yang digunakan Jung mengenai Archetype, yaitu Yesus Kristus, yang dibedakan antara Yesus yang historis dan yang tidak historis, yaitu Kristus yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu (h. 214, terj. h. II-78)

Pada candrajiwa Jung tidak terdapat diferensiasi pada sang aku seperti pada candrajiwa Indonesia, di mana sang aku tumbuh dari angan-angan (logos) dan menutupi seluruh psyche sebagai selubung (h. 209, ted. h. II-75)

Demikian pula ada beberapa hal yang pada candrajiwa Jung dipandang tidak konsisten, yang terkait dengan istilah dari Jung: “Archetype an Sich” dan “das Selbst”, dsb. Jika “das Selbst” sudah berkembang sepenuhnya, maka manusia menjadi “Personlichkeit” (kepribadian). Hal ini sesungguhnya bertentangan, karena Jung sendiri berpendapat, bahwa pada orang seperti itu sudah tidak ada hal-hal yang bersifat pribadi (h. 210, ted. h. 11-75)

Perspektif Therapeutik dari Candrajiwa Indonesia

Pada Bagian II bab II disertasi tersebut yang berjudul Perspektif Therapeutik dari Candrajiwa Indonesia”, Dr. Soemantri menyatakan bahwa:

Sang aku di dalam candrajiwa Indonesia sering digambar kan sebagai pahlawan, yang harus mengalahkan musuh, yaitul luamah…. Jadi suatu keadaan neurosis digambarkan dengan perjuangan di mana pahlawannya (masih) kalah dan melakukan usaha-usaha agar bisa menang. Candrajiwa Indonesia meletakkan persoalan dan penyelesaian dari keadaan neurosis itu pertama-tama dalam dirinya sendiri. Keadaan di luar dijadikan dijadikan nomor dua. ..Persoalan ini lebih balk digambarkan sebagai hubungan timbale batik antara keadaan pribadi dan keadaan masyarakat, di mana keadaan pribadi diletakkan di pusat persoalan. (h. 158, ted. MI-30)

Bagaimanakah candrajiwa Indonesia menangani persoalan ini secara umum agar tidak kalah perang? Pertama, harus menerima bahwa ada kemungkinan untuk mencapai suatu keadaan di dalam hidup, di mana terdapat perspektif mengalami keadaan seperti di sorga yang kekal yang ada di tingkat lain. Kedua, melepaskan tahap yang penuh kenikmatan, di mana badan jasmani berusaha mempertahankannya agar bisa selalu mengalaminya lagi.

Sedangkan pelaksanaannya tercantum secara berturut-turut dalam bab-bab dari buku Sasangka Jai sebagai berikut:

1. Orientasi yang sifatnya (re-)edukatif dari angan-angan, pangrasa dan nafsu-nafsu dengan sikap-sikap seperti tersebut dalam Tri Sila dan Panca Sila (Buku Hasta Sila)

2. Menghindari bertambah kuatnya luamah (nafsu yang mendorong ke kenikmatan) dengan larangan-larangan (Paliwara)

3 Pembangunan kembali jiwa dengan menerima adanya potensi besar di dalam dirinya: Paugeran (Jalan Rahayu, bab I)

4 Melatih introspeksi untuk mengenal diri sendiri untuk memperbesar kesadaran yang terarah, sehingga integrasi diperkuat (Jalan Rahayu, bab III)

5 Melaksanakan budi darma dengan menolong sesama manusia dan suka memaafkan sebagai latihan keinginan-keingin-

an yang sifatnya egosentrifugal untuk memperkuat asmara

sufi (nafsu suprasosial, Jalan Rahayu, bab III)

6. Melatih tapabrata untuk mempermudah pengaturan nafsunafsu (Jalan Rahayu, bab IV)

7 Mempertahankan keadaan yang telah tercapai, jadi memelihara keadaan yang bebas dari neurosis (Jalan Rahayu, bab V) (h. 159, ted. h. II-31)

Selanjutnya, dalam disertasi tersebut juga dinyatakan bahwa candrajiwa Indonesia dalam tekniknya memberi sudut pandang baru dalam perspektif-perspektif therapeutik. Sudah barang tentu harus diperhatikan pula struktur kepribadian orang Indonesia dan struktur kemasyarakatannya, mengingat sejarahnya, dan perkembangan agama-agama yang sepanjang mass telah masuk ke Indonesia (h. 177, ted. h. II-42).

Demikianlah beberapa contoh gambaran yang diberikan oleh Dr. Soemantri dalam menerapkan Ajaran Sang Guru Sejati sebagai langkah terapi psikologis.

Penutup: Apa kesamaan dan perbedaan antara Pangestu dan Fakultas Psikologi?

Seperti diuraikan di atas, Fakultas Psikologi adalah wadah yang dapat dipelajari teori, konsep atau pemikiran mengenal perilaku manusia, melakukan analisis dan berlatih mempraktekkan teori dan pemikiran tersebut agar dapat bermanfaat bag! diri sendiri, orang lain, ataupun perkembangan teori itu sendiri.

Bidang ilmu yang ditekuni adalah mengenai perilaku manusia, yang dapat diterapkan untuk mengetahui perilaku diri sendiri, ataupun perilaku orang lain, maupun perilaku kelompok. Di sin dapat dipelajari teori-teori para ahli, dan pada waktunya mungkin siswa akan dapat menyusun teorinya sendiri.

Seperti halnya pada proses pendidikan, selama menjadi mahasiswa, siswa dibekali dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan dasar, agar dapat mengerti dan memahami teori ataL konsep tersebut, dilatih untuk mampu melaksanakan kegiatan dan sikap yang perlu dikuasai, dan diuji dalam penguasaan ataL sikapnya, sebelum siswa dapat belajar lebih lanjut.

Pangestu adalah suatu organisasi yang menghimpun para anggota yang berminat untuk mempelajari, memahami, dan melaksanakan Ajaran Sang Guru Sejati. Persamaannya dengan Fakultas Psikologi adalah bahwa para warganya, sebagai siswa, juga mempelajari konsep tentang perilaku, yang dapat bergu. na untuk diri sendiri maupun orang lain, dalam menempuh ke. hidupannya, melalui jalan yang benar, menuju ke kebahagiaan kesejahteraan, dan kemuliaan abadi. Siswa harus mempelajari ajaran dengan saksama, dan Pangestu merupakan wadah bagi siswa untuk bersama-sama belajar. Siswa juga harus melakukan latihan praktik dan menempuh ujian yang diberikan oleh Suksma Sejati

Oleh karena itu dapat dipahami uraian yang disampaikan oleh Bapak Paranpara Pangestu Pakde Narto pada prasaran Kongres Pangestu ke-3 di Solo tahun 1961

Namun, perlu disadari juga, bahwa “teori” atau ajaran yang dipelajari bukan berasal dari manusia, tetapi adalah “wahyu Tuhan” yang diturunkan oleh Suksma Sejati. Maka perlu juga dimengerti perbedaan antara “Fakultas Psikologi” dan Pangestu, antara lain mengenai sumber ilmu serta pengembangannya.

Pada Fakultas Psikologi, sumber ilmunya adalah dari pemikiran dan pengamatan manusia, sedangkan sumber ilmu pada Pangestu adalah wahyu Suksma Sejati. Pada Fakultas Psikologi, siswa mengembangkan diri dalam memahami dan mempraktikkan ilmunya, kemudian lebih lanjut dapat mengembangkan ilmu tersebut. Pada Pangestu, siswa juga mengembangkan diri dalam memahami dan mempraktikkan ilmunya, tetapi tidak perlu (bahkan tidak dapat) mengembangkan ilmu ini lebih lanjut, karena sesungguhnya ilmunya sudah lengkap, bukan karangan manusia, tetapi wahyu dari Sang Guru Sejati.

Bahkan kemungkinan siswa yang mampu menyerap dan mempraktikkan ilmu tersebut selengkapnya, mencapai pamudaran

Satuhu.